Tulisan sebelumnya :
1. Perang Aceh: Perang Terbesar Belanda dan Perjuangan Panjang Aceh Melawan Kolonialisme
2. Perang Aceh Pertama: Kisah Perjuangan Panjang dari 1873 hingga 1942
Buku Perang Aceh karya Paul van ’t Veer menggambarkan sejarah panjang perjuangan Aceh yang berlangsung dalam berbagai bentuk sejak sekitar tahun 1870 hingga 1942. Perjalanan sejarah tersebut menunjukkan bagaimana Aceh menghadapi kekuatan kolonial Belanda, hingga akhirnya Jepang datang pada tahun 1942.
Pada tahun 1942, menjelang kedatangan Jepang, Aceh kembali melakukan pemberontakan. Setelah tahun 1945, Belanda tidak lagi berusaha menegakkan kembali kekuasaannya di Aceh. Dengan demikian, Aceh dapat disebut sebagai wilayah yang terakhir ditaklukkan oleh Belanda, tetapi juga termasuk wilayah yang paling awal memperoleh kembali kebebasannya.
Salah satu bagian penting dalam sejarah tersebut adalah Perang Aceh Kedua yang berlangsung pada 1874–1880. Dalam bagian yang berjudul Bagaimana Orang Membuat Perang, Paul van ’t Veer menjelaskan berbagai tokoh dan peristiwa yang turut membawa hubungan antara Aceh, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat menuju konflik yang lebih besar.
Rangkaian peristiwa menjelang Perang Aceh Kedua menunjukkan bahwa perang tidak muncul secara tiba-tiba. Di balik pecahnya konflik terdapat jaringan hubungan politik, perdagangan, keluarga, diplomasi, serta persaingan kepentingan antara Aceh, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.
Tokoh seperti Teuku Muhammad Arifin memiliki posisi yang unik dalam situasi tersebut. Ia bergerak di antara berbagai kekuatan politik dan memanfaatkan jaringan keluarga, perdagangan, serta hubungan internasional yang dimilikinya.
Sementara itu, pemerintah Belanda berusaha membaca perkembangan Aceh melalui jaringan informasinya, termasuk melalui William Read. Persoalan mengenai kemungkinan hubungan Aceh dengan Amerika Serikat kemudian menjadi salah satu unsur yang memperkeruh keadaan.
Sejarah Perang Aceh bukan hanya sejarah pertempuran antara Aceh dan Belanda. Perang tersebut juga merupakan bagian dari persaingan politik dan kepentingan internasional di Asia Tenggara pada abad ke-19. Berbagai keputusan, laporan, kesalahpahaman, dan kepentingan pribadi para tokoh turut membentuk jalan menuju perang.
Perang Aceh pada akhirnya menjadi salah satu konflik kolonial terpanjang yang dihadapi Belanda di Nusantara. Aceh merupakan wilayah yang terakhir ditaklukkan oleh Belanda, tetapi dalam perkembangan berikutnya juga menjadi salah satu wilayah yang paling awal melepaskan diri dari kekuasaan kolonial Belanda.
{getToc} $title={Daftar isi Artikel}
Teuku Muhammad Arifin dan Dunia Politik Abad ke-19
Teuku Muhammad Arifin merupakan salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam rangkaian peristiwa yang kemudian berkaitan dengan pecahnya perang. Keterangan-keterangannya kepada William Read mengenai apa yang kemudian dikenal sebagai persoalan atau “pengkhianatan” Singapura ikut menjadi salah satu unsur dalam berkembangnya ketegangan antara Aceh dan Belanda.
Menurut Paul van ’t Veer, Arifin dapat dilihat sebagai gambaran dari tipe manusia Nusantara pada abad ke-19. Namun, penggunaan istilah “manusia Indonesia” perlu dipahami dalam konteks sejarah. Pada masa itu belum terdapat gagasan mengenai Indonesia sebagai sebuah negara atau kesatuan politik seperti yang dikenal sekarang.
Tokoh-tokoh seperti Arifin lebih banyak bergerak berdasarkan kepentingan pribadi, keluarga, hubungan perdagangan, serta hubungan politik dengan berbagai kerajaan. Mereka tidak selalu menunjukkan kesetiaan kepada satu kerajaan tertentu. Dalam situasi politik Nusantara yang sangat kompleks, mereka dapat bekerja sama dengan pihak Eropa maupun dengan penguasa lokal sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Raja-raja Nusantara pada masa tersebut pada umumnya memandang wilayah kekuasaannya sebagai milik dan tanggung jawab pribadi. Karena itu, hubungan politik pada masa tersebut berbeda dengan konsep negara modern. Baik Inggris maupun Belanda merupakan kekuatan asing, sementara para penguasa lokal juga memiliki kepentingan politiknya sendiri.
Latar Belakang Keluarga Arifin
Teuku Muhammad Arifin mengaku sebagai putra Raja Moko-Moko, sebuah kerajaan kecil di sebelah utara Bengkulu. Salah satu alasan yang mungkin menjelaskan sikap anti-Belandanya adalah cerita mengenai ayahnya yang konon dimakzulkan oleh Belanda setelah wilayah tersebut diserahkan Inggris pada tahun 1825.
Namun, terdapat kemungkinan lain mengenai asal-usul Arifin. Ia mungkin merupakan salah seorang cucu raja yang jumlahnya cukup banyak pada masa itu dan merupakan anak seorang jaksa di Bengkulu.
Arifin memiliki kemampuan berbahasa Inggris, sesuatu yang pada masa itu belum umum di kalangan masyarakat Nusantara. Kemampuan tersebut membuatnya lebih mudah berhubungan dengan dunia perdagangan dan politik internasional, terutama melalui Singapura.
Ia juga sering berkunjung ke Aceh dan menikah dengan seorang keponakan dari sultan Aceh terdahulu. Hubungan perkawinan semacam ini memiliki arti penting dalam masyarakat politik Nusantara karena dapat memperluas jaringan hubungan keluarga dan politik.
Arifin menggunakan gelar Teuku, yaitu gelar bangsawan atau penguasa dalam masyarakat Aceh. Gelar tersebut berbeda dengan Teungku, yang berkaitan dengan kedudukan keagamaan, dan Tuanku, yang merupakan salah satu gelar kerajaan.
Hubungan Arifin dengan Trengganu dan Inggris
Melalui perkawinan lainnya pada tahun 1860-an di Singapura, Arifin memiliki hubungan dengan Sultan Trengganu, salah satu kerajaan di Semenanjung Malaka yang berada dalam lingkungan pengaruh Siam.
Sultan Trengganu pada saat itu sedang menghadapi perselisihan dengan penguasa yang lebih tinggi dan kemudian meminta bantuan Inggris. Arifin turut terlibat dalam usaha tersebut dan berangkat ke London dengan membawa hadiah-hadiah sebagai persembahan.
Utusan Trengganu bahkan memperoleh kesempatan untuk menghadap Ratu Victoria. Meskipun demikian, usaha tersebut tidak menghasilkan keuntungan politik yang diharapkan. Inggris kemudian semakin memperluas kekuasaannya di Semenanjung Malaka dan menempatkan Trengganu di bawah perlindungannya.
Hubungan Arifin dengan Trengganu dan Siam kemungkinan menjadi salah satu jalan yang kemudian menghubungkannya dengan William Read ketika ia kembali ke Singapura.
William Read dan Hubungannya dengan Aceh
William Read merupakan tokoh yang memiliki hubungan penting dengan pemerintah Belanda dan dunia politik Asia Tenggara. Ia mempunyai banyak urusan di Siam. Pada tahun 1871, Read bahkan bertindak sebagai penuntun Raja Siam Chulalongkorn, atau Rama V, ketika sang raja melakukan kunjungan resmi ke Hindia Belanda.
Atas jasanya dalam kunjungan tersebut, William Read kemudian diangkat sebagai konsul Kerajaan Belanda di Singapura.
Arifin dan Read telah berkenalan sejak tahun 1864. Menurut keterangan Read kemudian, dalam beberapa kesempatan sebelum tahun 1873 ia pernah memberikan bantuan kepada Arifin.
Ketika Read hendak berangkat pada Januari 1873 untuk melakukan urusan bisnis, ia berbicara dengan Arifin dan meminta agar Arifin memberikan informasi secara tertulis mengenai perkembangan yang terjadi di Aceh.
Hubungan Arifin di Singapura ternyata tidak hanya terbatas kepada Read. Ia juga berusaha membangun hubungan dengan Konsul Amerika Serikat, Studer.
Usaha Arifin Mendekati Amerika Serikat
Pada tahun 1872, Arifin mendengar kabar bahwa Amerika Serikat tertarik untuk membangun pangkalan armada di Kalimantan Utara. Ia kemudian menawarkan jasanya kepada Konsul Amerika Serikat, Studer, dengan mengaku sebagai kerabat Sultan Brunei.
Tawaran tersebut ditolak oleh Studer, tetapi hubungan antara keduanya tetap terjalin. Tidak lama kemudian, Arifin kembali menemui Studer. Kali ini ia membicarakan kemungkinan Amerika Serikat membuat perjanjian dengan Aceh.
Usaha tersebut kembali ditolak.
Pada September 1872, Arifin sekali lagi mengunjungi Studer. Kemudian, pada Januari 1873, ketika armada Amerika Serikat berkunjung ke Singapura, Arifin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan kepentingan Aceh kepada Laksamana Jenkins.
Namun, perlu diperhatikan bahwa informasi mengenai tindakan Arifin tersebut terutama berasal dari keterangan Arifin sendiri serta laporan pihak-pihak yang menjadi lawannya, termasuk Studer. Keterangan-keterangan tersebut kemudian diperiksa dalam pemeriksaan terhadap Arifin di Batavia pada Juli 1873.
Kedatangan Utusan Aceh ke Singapura
Pada Januari 1873, usaha Arifin untuk berhubungan dengan pihak Amerika Serikat berlangsung hampir bersamaan dengan tugas William Read untuk mengamati perkembangan politik di Aceh bagi kepentingan pemerintah Belanda.
Pada tanggal 25 Januari 1873, utusan-utusan Aceh tiba di Singapura. Arifin sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara mendalam apa yang sedang terjadi di Aceh. Bahkan, ia sempat terkejut dengan kedatangan delegasi tersebut.
Delegasi Aceh sebenarnya telah berada di Tanjungpinang, Riau, selama sekitar satu bulan. Namun, Arifin hampir saja kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam pertemuan tersebut.
Pada malam hari setelah mendengar mengenai kedatangan utusan Aceh, Arifin mengetahui bahwa Tibang Muhammad, syahbandar Aceh, telah mendapatkan seorang penghubung untuk memperkenalkannya kepada Studer.
Arifin kemudian berhasil masuk dalam pertemuan tersebut dengan memanfaatkan hubungannya dengan Konsul Amerika Serikat. Menariknya, hubungan tersebut ternyata tidak diketahui oleh para utusan Aceh sebelumnya.
Perselisihan Mengenai Perjanjian dengan Amerika
Pertemuan antara pihak Aceh, Arifin, dan Studer kemudian menjadi persoalan internasional. Namun, terdapat perbedaan keterangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemuan tersebut.
Studer kemudian menyatakan bahwa ia tidak pernah mengusulkan perjanjian dengan Aceh. Menurutnya, justru Arifin yang datang membawa sebuah rancangan teks perjanjian.
Sementara itu, pihak Aceh disebut hanya membawa sebuah surat yang bersifat umum dan meminta bantuan. Surat tersebut tidak mendapat tanggapan seperti yang diharapkan.
Keterangan Arifin berbeda. Dalam laporan awalnya kepada Read, Arifin menyatakan bahwa Konsul Amerika Serikat telah merancang sebuah konsep perjanjian yang terdiri atas dua belas pasal.
Keterangan tersebut kemudian disampaikan melalui telegram Read kepada Loudon dan diteruskan kepada pemerintah di Den Haag. Versi inilah yang kemudian menjadi bagian dari tuduhan resmi pemerintah Belanda terhadap Studer, baik dalam parlemen Belanda maupun dalam komunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat.
Keraguan Pemerintah Belanda
Meskipun demikian, Menteri Fransen van de Putte tidak langsung menerima keterangan tersebut begitu saja. Pada April dan Mei 1873, ia mengirimkan berbagai telegram kepada Batavia dan Singapura untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
Situasi semakin rumit ketika Studer memberikan tuduhan balik terhadap Arifin. Studer bahkan menyampaikan kepada Washington bahwa mungkin dirinya telah terjebak oleh seorang agen provokator.
Kecurigaan tersebut muncul karena Studer mengetahui bahwa Arifin pernah ikut serta dalam ekspedisi Belanda ke Aceh. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin Arifin yang pernah berhubungan dengan pihak Belanda kemudian berperan dalam persoalan yang digunakan untuk memperkuat tuduhan terhadap Studer?
Studer kemudian menyatakan kesediaannya untuk berbicara langsung dengan Arifin guna mengungkap kebenaran mengenai peristiwa tersebut. Ia mengusulkan agar pembicaraan dilakukan dengan disaksikan oleh seorang pejabat pemerintah kolonial Inggris di Singapura.

