![]() |
| Ilustrasi |
Nabi Idris A.S. adalah salah seorang nabi yang namanya disebut secara langsung di dalam Al-Qur'an. Meskipun kisah beliau yang terdapat dalam Al-Qur'an sangat singkat, Allah SWT memberikan pujian yang istimewa kepadanya.
Allah SWT berfirman:
"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
QS. Maryam: 56–57 {alertInfo}
Ayat tersebut menjadi dasar utama ketika membicarakan Nabi
Idris A.S.
{getToc}$title={Daftar isi}
Namun, berbeda dengan kisah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, atau
Yusuf, Al-Qur'an tidak memberikan cerita panjang mengenai kehidupan Nabi Idris.
Tidak dijelaskan secara rinci kapan beliau hidup, di mana beliau dilahirkan,
kepada kaum mana beliau diutus, maupun bagaimana secara detail perjalanan
dakwahnya.
Karena itu, kisah Nabi Idris sebaiknya disampaikan
berdasarkan keterangan yang memiliki dasar kuat, sementara cerita tambahan
perlu ditempatkan sebagai riwayat yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Siapakah Nabi Idris A.S.?
Nabi Idris A.S. adalah seorang nabi yang dikenal karena
kejujuran dan keteguhannya dalam membenarkan kebenaran.
Al-Qur'an menyebut beliau dengan sifat siddiq,
yaitu orang yang sangat membenarkan kebenaran dan memiliki kejujuran yang kuat.
Allah SWT juga menyebut beliau sebagai seorang nabi.
Dua sifat ini menunjukkan kedudukan penting Nabi Idris:
beliau adalah manusia yang memiliki kejujuran, keteguhan iman, dan menerima
wahyu dari Allah SWT.
Namun, Al-Qur'an tidak memberikan keterangan yang cukup untuk
membuat gambaran biografi Nabi Idris secara lengkap.
Kita tidak mengetahui secara pasti berapa lama beliau hidup,
di wilayah mana beliau tinggal, maupun bagaimana seluruh perjalanan dakwahnya.
Hal tersebut mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua kisah
para nabi harus diketahui secara rinci oleh manusia. Apa yang Allah sampaikan
dalam Al-Qur'an adalah bagian yang memiliki hikmah dan menjadi petunjuk bagi
manusia.
"Kami Mengangkatnya ke Martabat yang Tinggi"
Bagian paling istimewa dalam kisah Nabi Idris terdapat pada firman Allah:
"Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
QS. Maryam: 57 {alertInfo}
Ungkapan tersebut telah menjadi bahan pembahasan para ulama.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat
Nabi Idris ke tempat yang tinggi. Dalam ayat lain, Nabi Idris juga disebut
dalam konteks orang-orang yang mendapatkan rahmat dan termasuk golongan
orang-orang saleh.
Allah SWT berfirman:
"Dan Ismail, Idris dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh."
QS. Al-Anbiya: 85–86 {alertInfo}
Dengan demikian, hal yang dapat kita pastikan adalah bahwa
Nabi Idris mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah.
Nabi Idris dalam Al-Qur'an
Nama Nabi Idris disebut secara jelas dalam dua tempat di
dalam Al-Qur'an.
Pertama, dalam Surah Maryam ayat 56–57.
Kedua, dalam Surah Al-Anbiya ayat 85–86.
Dalam Surah Maryam, Allah memuji Idris sebagai seorang yang
sangat membenarkan kebenaran dan seorang nabi.
Sementara dalam Surah Al-Anbiya, Idris disebut bersama Ismail
dan Zulkifli sebagai orang-orang yang sabar dan saleh.
Meskipun hanya sedikit ayat yang membahasnya, pujian tersebut
menunjukkan kedudukan Nabi Idris yang mulia.
Kisah Nabi Idris dan Malaikat Maut
Ada sebuah kisah yang sangat populer dalam berbagai buku
cerita keislaman mengenai Nabi Idris dan Malaikat Maut.
Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Nabi Idris pernah
meminta Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya agar beliau dapat merasakan
bagaimana rasanya sakaratul maut.
Kemudian, setelah mengalami kematian, beliau dikisahkan
dihidupkan kembali.
Setelah itu, cerita tersebut berlanjut dengan kisah
perjalanan Nabi Idris melihat neraka dan kemudian melihat surga.
Dalam beberapa versi cerita, Nabi Idris bahkan dikisahkan
masuk ke dalam surga dan tidak mau keluar lagi.
Cerita tersebut memang sangat terkenal dan sering disampaikan dalam berbagai tulisan mengenai kisah para nabi.
Benarkah Nabi Idris Tinggal di Surga?
Pertanyaan mengenai keberadaan Nabi Idris di tempat yang
tinggi juga sering dikaitkan dengan peristiwa Isra dan Mi'raj.
Dalam hadis sahih tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW
melakukan Isra dan Mi'raj, Rasulullah SAW diceritakan bertemu dengan Nabi Idris
di langit keempat.
Pertemuan tersebut disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim.
Hal ini berbeda dengan cerita bahwa Nabi Idris masuk ke surga
setelah sebelumnya melihat neraka, lalu menetap di dalamnya karena meninggalkan
sandalnya.
Cerita tentang sandal tersebut tidak dapat dijadikan dasar
utama untuk menjelaskan kedudukan Nabi Idris.
Yang memiliki dasar kuat adalah keterangan bahwa Rasulullah
SAW bertemu dengan Nabi Idris di langit keempat dalam perjalanan Mi'raj.
Dari Mana Asal Nabi Idris?
Al-Qur'an tidak menjelaskan secara rinci tempat kelahiran
Nabi Idris ataupun wilayah dakwahnya.
Ada berbagai pendapat dan cerita dalam literatur sejarah
mengenai tempat kehidupan beliau. Ada pula yang menghubungkan Nabi Idris dengan
tokoh-tokoh kuno dari Mesir atau peradaban tertentu.
Namun, tidak ada dasar kuat dari Al-Qur'an yang membolehkan
kita memastikan bahwa Nabi Idris adalah tokoh tertentu dari sejarah Mesir kuno.
Karena itu, cerita semacam tersebut sebaiknya tidak ditulis
sebagai fakta.
Dalam penulisan kisah para nabi, lebih baik kita mengatakan:
"Tidak terdapat keterangan yang sahih dan tegas
mengenai lokasi kehidupan Nabi Idris A.S."
Dengan demikian, kita tidak mencampurkan kisah Al-Qur'an
dengan legenda sejarah yang belum dapat dibuktikan.
Nabi Idris dan Tradisi Keilmuan
Dalam sebagian literatur klasik, Nabi Idris sering dikaitkan
dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan seperti menulis, menjahit, ilmu
perhitungan, atau ilmu tertentu lainnya.
Akan tetapi, tidak semua keterangan tersebut memiliki dasar
yang sama kuat.
Karena itu, apabila informasi tersebut digunakan dalam sebuah
artikel, sebaiknya diberi penjelasan bahwa itu berasal dari riwayat atau
tradisi yang berkembang, bukan sesuatu yang secara tegas disebutkan Al-Qur'an.
Yang jelas berdasarkan Al-Qur'an adalah bahwa Idris merupakan
seorang nabi yang sangat jujur dan mendapatkan kedudukan tinggi dari Allah.
Mengapa Kisah Nabi Idris Sangat Singkat?
Ada hikmah menarik dari singkatnya kisah Nabi Idris dalam
Al-Qur'an.
Allah tidak selalu memberikan kisah panjang tentang setiap
nabi.
Kadang-kadang Allah hanya menyebut satu atau dua sifat utama
seorang nabi, tetapi sifat tersebut sudah cukup menjadi pelajaran bagi manusia.
Pada Nabi Idris, Al-Qur'an menonjolkan:
kejujuran, kenabian, kesabaran, kesalehan, dan
kedudukan yang tinggi.
Ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh
panjangnya kisah hidupnya, banyaknya harta, atau terkenalnya namanya.
Kemuliaan diberikan oleh Allah kepada orang yang beriman, jujur, sabar, dan taat.
Pelajaran dari Nabi Idris A.S.
1. Kejujuran adalah jalan menuju kemuliaan
Allah menyebut Idris sebagai seorang siddiq.
Kejujuran bukan sekadar berkata benar kepada orang lain.
Kejujuran juga berarti jujur kepada Allah, jujur terhadap
diri sendiri, dan berani menerima kebenaran meskipun kebenaran tersebut tidak
selalu sesuai dengan keinginan.
2. Kesabaran merupakan ciri orang saleh
Dalam Surah Al-Anbiya, Nabi Idris disebut bersama orang-orang
yang sabar.
Kesabaran diperlukan dalam menjalankan ketaatan, menghadapi
kesulitan, dan tetap berada di jalan Allah ketika menghadapi ujian.
3. Jangan mudah mempercayai setiap cerita
Kisah Nabi Idris juga mengajarkan pentingnya memeriksa
sumber.
Tidak semua cerita yang terdengar indah merupakan fakta.
Dalam perkara agama, kita harus membedakan antara:
- Al-Qur'an;
- hadis
sahih;
- hadis
yang masih diperselisihkan;
- riwayat
sejarah;
- cerita
populer;
- dan
legenda yang tidak memiliki dasar kuat.
Sikap seperti ini penting agar kita tidak mengatasnamakan
Nabi dan agama dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah disampaikan secara
sahih.
4. Kemuliaan berasal dari Allah
Allah sendiri menyatakan bahwa Dia mengangkat Nabi Idris ke
martabat yang tinggi.
Ini menunjukkan bahwa derajat seseorang pada akhirnya berada
dalam ketetapan Allah.
Manusia tidak perlu mengejar kemuliaan dengan kesombongan.
5. Tidak semua hal harus diketahui manusia
Kita mungkin ingin mengetahui di mana Nabi Idris hidup, kapan
beliau lahir, bagaimana bentuk dakwahnya, dan berbagai detail kehidupannya.
Namun Allah tidak menjelaskan semuanya.
Ini mengajarkan bahwa ada hal-hal yang memang tidak perlu
kita ketahui untuk mengambil pelajaran.
Yang terpenting adalah pesan yang telah Allah sampaikan.
Nabi Idris A.S. adalah salah seorang nabi yang memiliki
kedudukan mulia dalam Al-Qur'an.
Walaupun kisah hidup beliau tidak diceritakan secara panjang,
Allah memberikan pujian yang sangat jelas: Idris adalah seorang yang sangat
membenarkan kebenaran, seorang nabi, seorang yang sabar dan saleh, serta
memiliki kedudukan yang tinggi.
Kita tidak perlu mengisi kekosongan sejarah tersebut dengan
cerita yang belum dapat dipastikan.
Justru dari kisah Nabi Idris kita belajar untuk mencintai
kebenaran, menjaga kejujuran, bersabar dalam ketaatan, dan berhati-hati dalam
menyampaikan informasi agama.
Kisah Nabi Idris mungkin singkat di dalam Al-Qur'an, tetapi
pesan yang ditinggalkannya sangat dalam:
kemuliaan bukan terletak pada seberapa terkenal
seseorang di mata manusia, melainkan pada kedudukannya di sisi Allah.
Dan Allah telah memberikan kesaksian tentang Nabi Idris:
"Sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
QS. Maryam: 56–57 {alertInfo}

